Showing posts with label sharing. Show all posts
Showing posts with label sharing. Show all posts

Thursday, April 6, 2017

Surprise!

By Mulyadi Irawan

Tuhan mempunyai banyak cara untuk menjalankan rencanaNya dalam hidup kita. Terkadang rencana tersebut membutuhkan pengorbanan, pelajaran, ataupun kesulitan terlebih dahulu. Tapi terkadang Tuhan juga bisa menjalankan rencanaNya dalam hidup kita melalui lelucon. Hal ini pernah dialami oleh istri saya beberapa tahun yang lalu. Tepatnya saat ada proyek kemanusiaan yang dilakukan di gereja kami.

Saat itu, saya dan istri saya menghadiri acara rapat tersebut. Kami diundang sebagai penasihat dan bagian dari jemaat disana. Rapat tersebut berjalan dengan baik dan penuh canda tawa. Setiap peserta rapat memiliki ide dan gagasan yang luarbiasa, biarpun ide dan gagasan tersebut berbeda namun tujuannya tetap satu yaitu melayani Tuhan melalui kasih kepada orang-orang yang kurang mampu. Di akhir rapat, pemimpin rapat mencetuskan pertanyaan yang paling penting yaitu siapa yang akan menjadi ketua pelaksana acara ini? Peserta rapat mendadak terdiam, saya meyakini beberapa orang yang hadir mampu menjadi ketua pelaksana namun karena kecemasan ataupun rasa takut membuat mereka memilih untuk diam.

Saya berpikir, sepertinya istri saya mampu untuk menjalankan rencana ini. Tidak lama kemudian pemimpin rapat bertanya kepada saya, "Pak Mul, bagaimana?". Saya yang sedang duduk-duduk santai sontak kaget atas pertanyaan tersebut. Saya menolak permintaan tersebut karena saat itu Rumah Damai masih membutuhkan sosok saya secara utuh. Peserta rapat yang terlihat sudah cukup senang dan tenang mendadak terdiam kembali. Akhirnya pemimpin rapat menutup rapat proyek kemanusiaan ini tanpa adanya keputusan siapa yang akan menjadi ketua pelaksana acara ini.

Siang harinya saat kami sedang bersantai di Rumah Damai. Istri saya menerima telepon, pembicaraan yang sangat singkat tapi lucu. Handphone istri saya berdiring, telepon di angkat "Shalom, selamat siang", diam sejenak kemudian terdengar suara "HAH? Aku pikir-pikir dulu ya". Ternyata pemimpin rapat menelepon dan meminta istri saya untuk menjadi ketua pelaksana, hal ini muncul atas saran dari beberapa peserta rapat tadi.

Istri saya memberitahukan isi pembicaraan di telepon tersebut. Saya tertawa dan untuk menenangkannya saya mengajaknya untuk berdoa mengucapkan syukur atas kesempatan yang diberikan dan meminta kebijaksaan dalam memimpin. Puji Tuhan, selama proyek ini berjalan tidak ada masalah ataupun kesukaran yang ada hanya sukacita dan berkat. Ternyata Tuhan sudah menyiapkan kejutan penuh sukacita bagi istri saya melalui acara ini.

Begitulah rencana Tuhan kepada hidup kita. Kita tidak tahu apa yang telah Ia tulis untuk kita, tapi ingatlah rencana Tuhan bagi kita selalu indah, dan biarpun kita tidak tahu apa yang Ia rencakan untuk kita.

1 Korintus 2: 9 ~ "Tetapi seperti ada tertulis: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia."

Salam Damai!
Tuhan memberkati kita semua!

Wednesday, March 22, 2017

Lemari Hati

By Mulyadi Irawan

Beberapa waktu lalu, istri saya mendadak mengajak saya untuk merapihkan lemari pakaian keluarga. Ia berkata bahwa lemari ini sudah penuh sesak, saya terdiam sejenak dan memperhatikan lemari pakaian tersebut yang masih tertutup. Saya berpikir bagaimana lemari sebesar ini bisa penuh sesak? Rasanya masih banyak ruang di lemari ini. Ketika saya membuka dan memperhatikan secara seksama, memang masih banyak ruang di lemari ini. Saya bertanya kepada istri saya, "Mami, ini lemari masih banyak space. Kok udah mau di rapihin aja?". Istri saya menjawab, "Iya Pi, space masih banyak tapi kalau yang lama-lama dan udah engak bisa dipakai. Mau ngapain disimpan dilemari?". Hmmm... betul juga.

Kami mulai merapihkan pakaian kami satu per-satu. Ada baju pesta yang sudah lama tidak digunakan, ada celana dan baju yang tidak muat lagi untuk dipakai, ada pakaian yang sudah sangat longgar dan berlubang, ada pakaian baru yang dibeli namun tidak pernah terpakai, dan masih banyak lagi. Setelah selesai membongkar lemari dan merapihkan pakaian tersebut, saya baru menyadari ternyata selama ini lemari besar ini terisi dengan penuh sekali. Pakaian-pakaian yang dikeluarkan dari lemari ternyata memenuhi 4 dus besar. Kami memutuskan untuk menyumbangkan sebagian besar pakaian-pakaian yang masih layak digunakan.

Hidup kita juga seperti lemari besar tersebut. Terkadang kita tidak sadar bahwa kita terlalu banyak menyimpan hal-hal yang belum tentu berguna di hati kita dan tanpa disadari hal-hal tersebut membuat hati kita terasa sesak. 

(Source: http://narnia.wikia.com/wiki/Wardrobe)
Ayo mulai rapihkan lemari hati kita!
Merenunglah sejenak dan melihat ke hati kita sendiri. Adakah pengalaman-pengalaman buruk yang belum dapat kita syukuri dan terima?
Adakah pengalaman yang masih menghambat kita untuk maju? Dan, sudahkah kita memaafkan diri kita sendiri dan orang-orang tersebut atas kejadian tersebut? Percayalah dengan merapihkan lemari hati kita, kita memberikan ruang bagi diri kita untuk menerima pengalaman-pengalaman baru yang dapat menjadi bahan pelajaran kita untuk terus maju.
Biarlah Tuhan membantu kita untuk merapihkan lemari hati kita, agar kita dapat merapihkan hati kita dengan kebijaksanaan. Biarlah Tuhan berkarya dan menjadikan segala isi lemari hati kita berguna bagi diri kita sendiri dan orang banyak.

Salam damai!
Tuhan menyertai kita semua. Amin!

Wednesday, March 15, 2017

Tunggu dulu

By Mulyadi Irawan

Kalau mendengar kata "Tunggu dulu" rasanya saya malah semakin tidak sabar.
Pada dasaranya saya memang bukan orang yang sabar dan dapat menunggu dengan tenang. Namun, bertambahnya usia dan pengalaman mengajarkan saya bahwa menunggu dan bersabar selalu berbuah manis.

Buat teman-teman yang pernah sering melakukan perawatan mobil, teman-teman pasti tahu rasanya menunggu di bengkel atau tempat cuci mobil. Bosan sekali bukan? Hanya duduk atau berjalan di daerah sekitar saja, beruntung jika orang-orang yang sedang bekerja dapat diajak berbicara atau mengobrol bersama. Dan semakin jarang kita membersihkan atau melakukan "service", semakin lama juga waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya.

Di Rumah Damai, kami tidak hanya melayani pecandu-pecandu yang baru saja mengalami adiksi. Banyak dari mereka mengalami adiksi selama puluhan ataupun belasan tahun. Semua orang yang mengalami adiksi dan sedang direhabilitasi pasti ingin segera kembali berkarya dan lepas dari adiksi. Banyak dari mereka tidak mau direhabilitasi dengan alasan waktu. Sama seperti ketika kita membawa mobil kita ke bengkel, jika kita hanya memikirkan waktu yang terbuang maka mobil tersebut akan rusak karena tidak pernah di service.

(Source: theoccasionalnomad.wordpress.com)
Begitu jugalah ketika kita menghindari masalah atau tidak ingin menghadapi masalah karena alasan waktu ataupun suatu alasan lainnya, maka masalah tersebut akan semakin besar dan membutuhkan lebih banyak lagi usaha dan waktu dalam menyelesaikannya. Melalui Rumah Damai, Tuhan mengajarkan saya untuk menyadari bahwa untuk segala sesuatu yang bersifat kekal dan ilahi, waktu adalah salah satu harga yang harus dibayar. Waktu untuk menerima perubahan dan hidup baru, waktu untuk Tuhan berkarya dalam diri kita, waktu untuk menumbuhkan karakter kita yang baru, dan waktu untuk berbagai hal positif lainnya.
Pilihan ada pada diri kita masing-masing. Waktu pasti akan berlalu namun yang terpenting adalah apa yang kita lakukan selama waktu dan karya Tuhan tersebut berjalan dalam hidup kita.Apakah kita menghabiskannya dengan menaruh iman, pengharapan, dan berusaha untuk menghadapi masalah tersebut ? Atau kita  menghabiskannya hanya dengan berpangku tangan saja dan menunggu?

Salam Damai, Tuhan memberkati kita semua selamanya.
Amin!

Friday, March 10, 2017

Transformasi dalam Nama

By Muljadi Irawan

Saya mempunyai cerita yang menarik, cerita yang sering saya ceritakan kepada beberapa teman-teman atau anak-anak saya ketika mereka dihina oleh orang lain. Cerita sederhana ini mungkin bisa menginspirasi teman-teman juga.

Saat saya masih aktif bekerja di Jakarta, saya cukup dekat dengan seorang security bernama Efrizon. Teman-teman suka memanggilnya O'on, bukan karena dia adalah seorang yang o'on (atau bodoh) tapi hanya karena panggilan tersebut memudahkan orang-orang untuk memanggilnya. Saat krisis moneter terjadi, perusahaan kami menjadi salah satu perusahaan yang mengalami dampak cukup besar. Perusahaan mengalami penyusutan, beberapa karyawan harus di PHK secara sepihak agar perusahaan tetap dapat berjalan. O'on menjadi salah satu orang di PHK, ia sempat berpamitan kepada saya. Wajahnya tampak sedih, tapi ia berkata semua akan baik-baik saja dan ia akan membuka usaha sendiri.

Tidak lama setelah itu, ia mulai berjualan sepatu di daerah Tanah Abang. Saya sempat berkunjung dan membeli sepatu untuk membantunya. Namun, tidak lama setelah saya membeli sepatu tersebut. O'on menelepon saya dan mengucapkan perpisahan sekali lagi karena ternyata usahanya di Tanah Abang tidak berhasil dan ia ingin kembali ke tanah kelahirannya yaitu Padang.

Setelah beberapa tahun tidak bertemu dan tidak ada kabar. Saat saya sedang mengurus kantor cabang tempat saya bekerja, ada seseorang yang memanggil saya. "Pak Mul!", "Pak Mul!". Ketika saya melihat ke arah suara tersebut ternyata O'on yang memanggil saya, tidak dengan seragam security atau kaus oblong tapi dengan setelan kemeja rapih. "Wah O'on, gimana kabar kamu sekarang?", saya sangat terkejut melihat penampilannya yang baru. "Pak Mul! Kenalan dulu kita, saya bukan O'on, nama saya Jaya!". Ternyata nama barunya lebih membuat saya terkejut daripada penampilan barunya.

Kami-pun memutuskan untuk berbincang-bincang sebentar sebelum kembali ke kesibukan masing-masing. Ia bercerita pengalamannya saat ia mengalami kegagalan dan harus kembali ke Padang. Ia merenung selama beberapa hari dan ia menyadari bahwa setiap orang sukses yang ia kenal memiliki kesamaan yaitu masing-masing dari mereka memiliki nama "Wijaya". Sejak saat itu ia memutuskan menganti namanya menjadi "Wijaya", dan saat ada orang yang memanggilnya O'on. Ia mengenalkan kembali dirinya dengan nama Wijaya atau Jaya dan ia selalu berkata Saya Jaya dan hidup saya akan berjaya". 

Tidak lama setelah menganti namanya. Salah satu kerabat menawarkan Jaya untuk bekerja di perusahaan mebel miliknya. Jaya-pun tidak berpikir panjang dan langsung bekerja. Disana Jaya terus belajar dan berusaha, ia-pun memulainya dari titik terendah yaitu sebagai buruh pabrik, Jaya perlahan-lahan belajar dan terus naik dan mendapatkan kepercayaan untuk mengurus bagian produksi, tidak hanya puas dengan tanggung jawab dan prestasi tersebut. Jaya tetap berusaha untuk mencapai hal yang lebih besar, Jaya berhasil membuka sendiri cabang perusahaan di Jakarta dan perusahaan saya ternyata menjadi salah satu mitra bisnisnya.

Tidak hanya puas menjadi kepala cabang Jakarta, ia juga memberikan umroh kepada setiap karyawannya jika perusahaannya mendapatkan proyek besar. Ia sudah mengantarkan lebih dari 20 karyawannya untuk naik haji. Menariknya adalah ia sendiri belum naik haji. Ia berkata bahwa banyak kesempatan bagi dia untuk naik haji, tapi tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama contohnya karyawan-karyawannya. Jaya tidak menikmati kesuksesannya sendiri, ia menikmatinya bersama orang-orang disekitarnya yang membantunya mencapai kesuksesan tersebut.

Dari cerita ini kita belajar satu hal yaitu: Iman.
Di dalam Bilangan 14:28: "...seperti yang kamu katakan di hadapan-Ku, demikianlah akan Kulakukan kepadamu." Terkadang kita lupa bahwa nama kita, panggilan kita, ucapan kita adalah iman dan doa kita kepada Tuhan. Jika kita memberikan "diskon" kepada diri kita sendiri, maka kita mengecilkan rencana Tuhan yang besar kepada diri kita. Ingatlah, Tuhan menjadikan kita kepala bukan ekor. Rencananya besar bagi kita semua, tapi apakah iman kita cukup besar untuk menerima rencana tersebut?

Salam Damai!
Tuhan memberkati kita semua.

Wednesday, February 8, 2017

Alasan untuk Bersyukur

By Mulyadi Irawan
 
Rumah Damai di Gunung Pati
Gunung Pati tempat kami mendirikan Rumah Damai berada tepat dibawah kaki gunung. Tinggal di kaki gunung selalu membuat saya terpukau dengan lingkungan alam Tuhan disini lingkungan yang masih sangat asri, penuh pohon, udara yang sejuk, air yang segar, dan tidak banyak kebisingan kendaraan bermotor ataupun asap kendaraan bermotor yang ada hanya suara warga yang bercengkrama satu sama lainnya dan kegiatan anak-anak kami disini. Suasana yang sejuk dan penuh ketenangan ini memang menjadi salah satu alasan saya menderikan Rumah Damai disini.

Dulu saya senang sekali ketika bisa mandi dengan air yang sangat segar dan dingin di pagi hari tapi sekarang agak kesulitan untuk mandi dengan air dingin. Pada dasarnya mungkin saya memag takut air dingin, tapi usia juga tidak bisa menipu. Sehingga terkadang saya harus memanaskan air terlebih dahulu sebelum mandi, Istri saya menyarankan untuk memasang beberapa pemanas air di kamar mandi rumah kami. Setelah dipikir-pikir, memasang pemanas air adalah ide yang bagus karena saya tidak perlu menghabiskan waktu untuk memasak air dahulu sebelum mandi dan setelah kami melihat perangkat dan biaya pemasangan kami akhirnya memutuskan untuk memasang beberapa dirumah kami.

Setelah cukup lama menggunakan pemanas air ini, beberapa bulan yang lalu saat saya menyalakan air untuk mandi tiba-tiba airnya menjadi dingin sekali. Saya berpikir mungkin gasnya sudah habis, saya keluar untuk mengganti tabung gas namun tetap saja airnya dingin. Saya pindah ke kamar mandi anak-anak, sudah cukup lama mereka tidak menggunakan pemanas air ini beruntung pemanas air milik mereka masih bisa digunakan. 

Siang harinya saya mencoba memperbaiki sendiri alat pemanas air tersebut, setelah berkutat dengan pemanas air tersebut selama beberapa jam. Tetap saja saya tidak menemukan masalahnya dan tidak bisa memperbaikinya. Akhirnya saya membawa ke toko dimana saya membeli pemanas air ini, kebetulan toko tersebut juga menyediakan jasa service. 3 hari kemudian, mereka mengantarkan kembali pemanas air yang sudah selesai diperbaiki dan memasangnya kembali. Puji Tuhan saya dapat mandi dengan air hangat lagi.

Malam harinya saat ingin berdoa, saya merenungkan kejadian sederhana ini. Dan saya menyadari bahwa saya lupa mengucap syukur dengan pemanas air yang saya miliki ini, karena alat ini saya bisa mandi dengan air hangat tanpa perlu memasak air. Sementara di luar sana mungkin banyak yang sedang kedinginan dan tidak bisa menikmati air panas untuk mandi. Saat itu saya diingatkan Tuhan untuk mengucap syukur dan berterima kasih atas segala sesuatu yang terima dan saya miliki sekecil apapun itu.

Sudahkah kamu mengucap syukur kepada Tuhan hari ini?

Mungkin untuk sesuatu yang kelihatannya sepele, seperti segelas teh hangat, secangkir susu, atau segelas air putih? Sudahkah kita mengucap syukur dan berterima kasih untuk senyuman dari orang-orang yang kita kasihi atau sapaan dari orang-orang sekitar kita?

Firman Tuhan dalam 1 Tesalonika 5:18 mengajarkan kita untuk "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu". Untuk itu ingatlah selalu ada alasan untuk sebuah ucapan syukur.

Salam Damai, Tuhan memberkati kita semua.
Amin!

Wednesday, December 28, 2016

Indah pada waktunya

By Mulyadi Irawan

Selamat natal, semoga berkat, damai, dan sukacita Natal selalu bersama kita.
 
(Source: Beauty Walk)
Tidak terasa kita sudah melewati natal tahun 2016. Natal adalah moment yang sangat tepat untuk berbagi berkat dengan sesama, pertukaran kado adalah salah satu bentuk dari ungkapan berbagi berkat. Tapi ingatlah berbagi berkat tidak hanya dapat dilakukan saat natal saja, menjadi berkat dan berbagi berkat untuk sesama kita harus senantiasa kita lakukan, kapanpun, dan dimanapun.

Kali ini saya ingin sharing salah satu pengalaman saya yang luar biasa saat saya menerima berkat dari Tuhan melalui Gereja GBI Puri Indah Jakarta tepatnya saat tahun 2010. Waktu itu panitia GBI Puri Indah meminta saya untuk menjadi salah satu narasumber untuk acara talk show di gereja tersebut pada pukul 6 malam hari minggu. Saya senang sekali dan langsung menyetujui panggilan tersebut, terlalu senang sampai-sampai saya lupa kalau pada malam hari sabtu saya harus melakukan pelayanan di Yogya, dan saya harus melakukan pelayanan lagi minggu pagi di Bandung.

Singkat cerita, pelayanan di Yogya sudah selesai. Saya bergegas pulang dari Yogya menuju Semarang agar saya bisa bangun pagi dan melanjutkan pelayanan ke Bandung dan menghadiri talkshow di Jakarta. Perjalanan dari Yogya menuju Gunung Pati memakan waktu kurang lebih 3 jam, saya sampai di Rumah Damai kurang lebih pukul 12 malam dan saya langsung beristirahat.

Saat bangun pagi, kepala saya sedikit pusing mungkin karena saya kurang tidur. Akhirnya saya meminta tolong kepada Yoga untuk menyetir dan menemani saya seharian. Yoga langsung bersiap-siap untuk berangkat. Puji Tuhan karena Yoga yang menyetir mobil, saya bisa bersitrahat selama perjalanan. Pelayanan pagi di Bandung berjalan dengan luar biasa! Jemaat-jemaat disana sangat aktif dan penuh suka cita, sesudah acara saya dan Yoga langsung bergegas ke Jakarta.

Dalam perjalanan menuju Jakarta, saya melihat sebuah minibus yang digunakan suatu perusahaan travel. Saya memanggil Yoga "Ga, kalau kita punya satu minibus lagi enak ya. Kita sekali jalan bisa angkut banyak anak-anak". Yoga memperhatikan minibus tersebut, "bener tuh Pi, nanti kalau ada rejeki lebih kayaknya kita butuh minibus yang sejenis itu". Saya berpikir sejenak karena saya tau harga minibus seperti itu tidaklah murah, kemudian saya menanggapi Yoga "Iya Ga, doain ya banyak jemaat-jemaat atau gereja yang bantu kita. Kali aja nanti kita bisa beli". Yoga tertawa sambil berkata "Amin Pi Amin".

Setibanya di Jakarta, saya pun beristirahat sejenak bersama Yoga dan berkeliling sekitar gereja GBI. Saya bertemu dengan salah satu keluarga kami dari Rumah Damai yang kini sudah tidak tinggal bersama kami. Namanya Sinyo (dalam bahasa Jawa, Sinyo berarti anak kecil) saya, Yoga, dan Sinyo langsung asyik mengobrol. Ternyata Sinyo kini tinggal di Bandung, Sinyo mendapatkan kabar di gerajanya kalau saya akan mengisi talk show di Jakarta. Ia pun berangkat ke Jakarta dengan minibus travel. Kami pun menceritakan pembicaraan kami soal minibus dengan Sinyo, dan Sinyo pun tertawa dan berkata "bener Pi, kalau rame-rame butuh minibus. Tadi aku dateng pake minibus begitu tapi sendirian doang. Gak nyaman banget rasanya, kan kalau rame-rame gitu enak ya". Kami pun tertawa, dan tidak lama panitia memanggil saya untuk bersiap-siap untuk briefing dan naik ke panggung.

Talk show tersebut dipimpin oleh gembala sidang gereja GBI Puri Indah Pak Pendeta Samuel Gunawan dan bapak Andy Noya. Singkat cerita acara berlangsung dengan luar biasa dan menyetuh hati. Selesai acara para panitia melalui Pak Andy Noya memberikan saya souvernir berupa gantungan kunci, Pak Andy berkata "Pak Mul, gantungan kunci ini belum lengkap. Kami belum kasih kuncinya. dan sekarang Pak Mul, tolong terima ini kuncinya". Saya benar-benar kaget sekali bahwa ternyata panitia memberikan souvenir berupa minibus. Saya tidak dapat menjelaskan perasaan yang saya rasakan waktu itu. Ada kegembiraan, dan rasa haru bercampur menjadi satu melihat berkat yang diberikan kepada Rumah Damai hari itu.

Saya percaya bukan suatu kebetulan belaka yang membuat Yoga harus ikut dengan saya hari itu. Yoga ikut karena ia dibutuhkan untuk menjadi alat Tuhan dalam membawa berkat tersebut (minibus) ke Rumah Damai. Saya juga percaya Tuhan memberikan minibus tersebut bukan hanya saya meminta, tapi Tuhan tahu bahwa kami membutuhkannya. Luar biasa sekali rencana Tuhan bagi Rumah Damai. Sesudah acara selesai saya kembali mengucapkan terima kasih kepada Pak Pendeta Samuel Gunawan, dan panitia yang sudah mengundang saya. Lalu saya menceritakan kembali kebutuhan minibus yang dipenuhi oleh Tuhan melalui GBI Puri Indah. Pak Pendeta Samuel Gunawan berkata "Indah ya Pak Mul, rencana Tuhan tuh selalu tepat waktu. Tidak pernah terlalu cepat, tidak pernah terlambat. Semua dikasih ke kita bukan pas kita mau tapi pas kita butuh". Saya teringat kembali suatu firman Tuhan dalam Pengkhotbah 3:11 "Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya".

Keesokan harinya saya dan Yoga kembali ke Jakarta. Sinyo pun kembali ke Bandung, kami mengantar Sinyo ke Bandung dengan minibus yang diberikan kepada kami kemarin. Yoga pun langsung bercanda dengan Sinyo, "Nyo, pegi sendirian pake nih mobil pulangnya sendirian lagi Nyo sama nih mobil". Kami pun tertawa bersama. Kejadian itu tidak akan pernah saya lupakan. Keajaiban dan kebaikan Tuhan bagi kami Rumah Damai sangat luar biasa.

Saya menjadikan kejadian tersebut sebagai peingingat bahwa Tuhan akan mencukupi kebutuhan kita kita pada saat yang tepat. Ingatlah untuk terus berusaha dan melakukan yang terbaik. Lakukanlah yang terbaik maka Tuhan akan memberikan kita hal yang terbaik juga. Firman Tuhan dalam Filipi 4:6 berisi "Janganlah khawatir tentang apapun juga. Namun, dalam segala sesuatu nyatakanlah keinginamu kepada Allah dalam doa dan permohonan serta ucapan syukur".

Semoga cerita ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Salam damai, Tuhan berserta kita semua
Amin!