Showing posts with label natal. Show all posts
Showing posts with label natal. Show all posts

Thursday, January 21, 2016

Tiada yang mustahil bagiNya!

By Felicia Sutanto

New plant grows on an old trunk. Picture by Pixabay.
Saya teringat pada suatu hari di bulan September tahun 2013, saya dan suami menerima undangan untuk melayani di acara ulang tahun sebuah gereja dan pelayanan gembalanya yang ke 10.

Gereja tersebut berada di kota Medan dan gembala gereja itu adalah seorang alumni Rumah Damai. Seorang pecandu narkoba yang dianggap sebagai sampah masyarakat dan orang yang dibuang.


Tentu saja saya terkejut ketika menerima undangan tersebut karena 10 tahun berjalan begitu cepatnya. Hampir - hampir saya tidak percaya bahwa dia sudah menjadi gembala selama itu. Dalam waktu bersamaan, saya juga merasa takjub. Takjub akan karya Tuhan yang mengubah kehidupannya dari sampah masyarakat menjadi berkat bagi banyak orang.

Firman Tuhan berkata :
"Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat". (1 Korintus 1:27)

Oleh anugerahnya dia telah diangkat dari kehidupan yang tidak berarti dan dipilih untuk menjadi pembawa kabar sukacita. Inilah salah satu alasan Dia datang ke dunia. Karena kasihNya kepada kita Dia datang untuk memulihkan segalanya.

"Tiada suatu apa pun yang mustahil untuk-Mu!" (Yeremia 32:17)

Haleluya!

Friday, December 25, 2015

Kasih Bapa

By Felicia Sutanto

Picture courtesy of http://www.aroundyou.com.au
"Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak - anakmu, apalagi Bapamu yang di surga!" (Matius 7:11).

Pada tahun 1989, gempa bumi hampir meratakan Armenia dengan membunuh lebih dari 30.000 orang dalam waktu kurang dari 4 menit. Ada seorang bapak yang berlari kembali ke sekolah anaknya karena gempa itu baru saja terjadi setelah dia mengantarkan anaknya kesana. Sekolah itu sudah rata dengan tanah. Bapak ini mencoba mengingat - ingat letak kelas anaknya. Kemudian dia coba menggali puing - puing diatasnya. Beberapa orang orang tua lain, petugas kebakaran dan polisi mengusir dia dari sana karena berbahaya. Mereka berkata sudah terlambat dan mereka telah mati. 

Dia terus menggali selama delapan jam, dua puluh empat jam, tiga puluh enam jam lamanya. Kemudian, pada jam ke tiga puluh delapan, ketika ia menarik batu besar, terdengar suara anak kecil, lalu ia meneriakan nama anaknya, terdengar jawaban
"Ini aku, pa".

Bulan ini kita merayakan natal. Merayakan Kasih Bapa untuk umat manusia. FirmanNya berkata dalam Matius 3:16 (TB) "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal".

Selamat Natal.

Thursday, December 24, 2015

Musim kering dan musim hujan

By Mulyadi Irawan

Tanaman Jagung, Singkong, dan Kacang di perkebunan petani, Semarang.
Ada sebuah hal yang selama ini jadi pertanyaan dalam hidup saya. Ketika saya memperhatikan petani di desa tempat kami tinggal, setiap musim kemarau, dimana tanah mulai kering dan merekah, mereka mulai mengerjakan tanah mereka. Tanah itu mulai mereka kerjakan dengan alat sederhana yaitu pacul. Di saat seperti ini, mereka bekerja berhari - hari lamanya. 

Ketika tanah sudah selesai dikerjakan, mereka biarkan tanah tersebut dan biasanya, beberapa bulan kemudian, hujan mulai turun. Saat hujan mulai turun, mereka tunggu 1 (satu) minggu lamanya sebelum mereka mulai menanam. Mereka berkata, ketika hujan turun, barulah itu saatnya menanam dan biar alam yang merawat dan menyirami tanah tersebut. Saya merenungkan kenapa mereka mulai menggali tanah saat musim kering. Ternyata saat musim kering, tanah tidak menggumpal dan mudah digemburkan. Jika mereka mengemburkan tanah di saat musim hujan, tanah itu akan menggumpal dan banyak yang akan melekat pada mata pacul dan kaki mereka sehingga ini menyulitkan mereka untuk lanjut bekerja. 

Foto saat tanah digemburkan pada musim kering (kiri) dan benih yang telah tumbuh pada musim hujan (kanan).

Demikian juga dalam hidup kita, ketika kita mengalami masalah dalam hidup kita sehingga kita merasa kering, inilah saat yang tepat untuk menggemburkan kembali tanah hati kita dengan penuh ucapan syukur, berdamai dengan keadaan, dan percaya, bahwa saat hujan turun, hati kita sudah siap terima semua yang baik dengan ucapan syukur. Benih itu akan tumbuh dan kita tidak perlu berjerih payah untuk menggarap tanah hati kita kembali ketika hujan berkat sudah turun karena semua telah kita siapkan.

Mari terus kerjakan tanah hati kita saat musim kering dan siapkan diri untuk hujan berkat yang sudah Dia rencanakan bagi kita.

Damai Kristus dalam hidup kita semua.

Tuesday, December 15, 2015

Seperti Bapa Sayang Anaknya

By Mulyadi Irawan


Sunday Service at IFGF Semarang, 13 Desember 2015.
Demikianlah karena kasihNya, karena cinta dan sayangNya pada kita, Dia berikan anakNya yang tunggal Yesus Kristus turun ke dunia, jadi sama dengan manusia, mati di kayu salib dan pada hari ketiga Dia bangkit dari antara orang mati, naik ke surga dan duduk disebelah kanan Allah Bapa yang maha kuasa.

Jika ada diantara kita yang sedang mengalami bahwa sepertinya semua yang ada dalam hidup kita telah mati, baik itu usaha, pekerjaan, keluarga, bahkan iman kita yang mulai lemah, percayalah bahwa Dia telah datang membawa kehidupan bagi kita semua.

DamaiNya dicurahkan atas hidup kita sehingga kita bisa menjalani hidup ini dengan penuh sukacita dan terus melangkah dari satu kemuliaan kepada satu kemuliaan lainnya.

Doa saya untuk kita semua:
"Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan". (Roma 15 : 13)

Amin.

Klik disini untuk melihat lirik dari ref. lagu Seperti Bapa Sayang Anaknya karya Jeffy S. Tjandra dari message di atas.

Saturday, December 5, 2015

Merah dan Hijau

By Mulyadi Irawan


Dekorasi Natal. Courtesy of Zero Decor.
Tidak terasa bulan Desember telah tiba. Pada bulan perayaan Natal ini, kita kerap kali menemukan tempat-tempat umum dihiasi dekorasi yang dominan berwarna merah dan hijau.

Kedua warna ini mempunyai arti masing-masing, dimana Merah dapat melambangkan semangat, dan Hijau melambangkan kehidupan, sehingga kedua warna ini dapat diartikan menjadi hidup yang penuh dengan semangat.



Semangat yang dimaksud adalah semangat yang membangun dan tidak merusak, semangat yang mendukung dan tidak menjatuhkan. Papi percaya, jikalau kedua hal ini bisa kita lakukan, akan mendatangkan damai dalam hidup kita.

"Kedamaian yang mana dibawa oleh-Nya yang turun ke dunia ini dan kita merayakannya lewat perayaan Natal."

Papi berdoa semoga damai sejahtera selalu memenuhi hidup kita semua, Tuhan memberkati.

Salam Merah dan Hijau.